Sebelumnya kau bilang itu puisi
Bagiku itu hal-hal yang terjadi padaku begitu saja
Tiap-tiap kali aku memikirkanmu
Pun demikian malam ini
Masih teringat jelas dalam ingatanku
ketika air harus menjadi awan untuk melintasi langit
Bagaimana dengan aku dan rinduku?
Terbang puluhan ribu kaki menemuimu, menuju matamu
Tak peduli berapa banyak alasan untuk kau bilang tidak
Cinta tetaplah cinta
Sebab rinduku bukan hanya jarak
Ia diingini namun juga disegani
Sampai kau meninggalkanku
Saat itu juga kututup rinduku...
Jumat, 29 Juli 2016
Kamis, 28 Juli 2016
Siang itu...18 Juli 2013!
09 Ramadhan 1434H atau 18 Juli 2013…Siang itu langit
di kota “M” nampak tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, panas,
gersang, dan berdebu, sebagai gambaran saja bahwa kota “M” adalah kota yang
tepat dilalui garis khatulistiwa jadi menurutku wajar saja apabila cuaca disini
sangat panas apalagi waktu menunjukkan pukul 14.00 Wita dimana matahari sedang
terasa teriknya….puasa kali ini pun terasa nikmat sekali cobaannya, ya…memang
bena-benar terasa nikmat, bukankah puasa seseorang hanya akan terasa apabila
dikasih cobaan dimana orang tersebut pun tidak menyukainya atau menyenanginya
sehinga yang demikian tersebut akan mempunyai nilai lebih dihadapan Tuhan. Namun
udara panas tersebut setika berubah begitu masuk ruangan kantor, udara dingin
yang keluar dari AC membuat kepala ini terasa sejuk seperti
diguyur pancuran air yang mengalir dari bambu-bambu yang berjejer rapi
ditempat-tempat wisata di kaki gunung maupun di pedesaan. Seperti biasanya aku
duduk dimana tempat aku bekerja, hufft….helaku, sambil membuka laptop untuk
mereview materi yang akan dibawakan oleh Kepala Kantor kami untuk acara
seminar, yang ternyata baru kami tahu jadwalnya masih lama yaitu sore nanti
sekitar pukul 16.00 Wita…belum sampai 15 menit aku merasakan dinginnya udara AC yang berada di dalam ruangan. “Mas siap-siap
kita ke Malendo lagi” seru Pa Andy sambil ke luar ruangan. “loh bukannya jadwal
untuk kami sore nanti” gumamku dalam hati. Tapi ya sudahlah, laptop aku matikan
kembali bersiap menuju ke Malendo lagi.. “oh iya Malendo adalah salah satu hotel
di kota “M”, biasanya dihotel tersebut sering digunakan untuk acara-acara
kantor, seperti rapat kerja, gathering, resepsi maupun seminar dll”.
Di depan kantor Pa Andy sudah menungguku dan Atasan
kami, akhirnya kami berempat termasuk supir masuk mobil menuju Malendo. Sepuluh
menit perjalanan sampailah kami berempat di hotel yang dimaksud, kami bertiga
memasuki lobi dan langsung menuju ruang seminar, Atasan kami langsung menuju
tempat yang telah disediakan oleh panitia sementara aku dan Pa Andy mencari
tempat duduk yang kosong, sebelum sempat kutaruh tas, aku sempatkan bertanya
dulu pada panitia “Maaf Bu kalau boleh tau operatornya mana ya?” “oh..itu Pa.. perempuan yang pakai jilbab oranye” jawab ibu tersebut, yang kutahu
belakangan ternyata namanya Ibu Santi, “terima kasih Bu..” sahutku sambil
menuju ke tempat kursi kosong dan segera menaruh tas aku. Aku pun langsung ke
depan menuju meja operator untuk memberikan flashdisk
yang di dalamnya berisi materi yang akan disampaikan oleh Atasan kami.
Setelahnya aku kembali duduk dan mendengarkan materi yang disampaikan oleh
pembicara.
Namun ketika Atasan kami mulai membawakan materi rupanya
antara yang disampaikan oleh Beliau dengan yang dipresentasikan berbeda.
Kembali aku menuju meja operator lagi “permisi…bisa aku yang jadi operatornya”
pintaku, “oh…iya bisa silahkan” jawab si operator yang murah senyum itu.
Sembari aku mengoperasikan presentasi yang dibawakan oleh Beliau, aku sempatkan
berkenalan dengan operator tadi, “boleh aku berkenalan” tanyaku, “iya boleh”
jawab perempuan yang nampak sangat bersahabat tersebut, “Adit...” kataku sambil
kuulurkan tangan tanda perkenalan “Hana…” jawab perempuan manis tersebut sambil
berjabat tangan. “Oh…ternyata namanya Hana” kataku dalam hati, obrolan pun
berlanjut…dan ketika aku bertanya “kalau boleh tau sekarang aktivitasnya ap?”
“ga ad, kuliah aja…sambil ada usaha home
industry buat sprei” jawabnya dengan
senyum yang manis.
Disamping kami berdua sibuk dengan apa yang
dikerjakan masing- masing, kami masih sempat mengobrol dengan asyik dan santai.
Entah berapa lama aku duduk di kursi untuk mengoperasikan presentasi dan berapa
lama pula aku mengobrol dengannya, yang jelas dari obrolan tersebut tersirat
betapa tangguhnya perempuan ini. Bagaimana tidak seorang perempuan yang
membiayai kuliahnya sendiri dan sudah mempunyai usaha dimasa mudanya,
“Ehmm….bagaimana dengan aku” tanyaku dalam hati. Mendengar semua apa yang tadi
diceritakannya membuat dadaku ini terasa sesak, wajah ini terasa ditampar dan
seakan-akan dalam hatiku yang lain berkata “Hei…lihatlah
perempuan disebelah kamu, apakah kamu tidak merasa malu, bagaimana dengan
kamu….apa yang sudah kamu lakukan selama ini?” Ya Tuhan hanya ada satu kata yang terucap
dalam hati aku untuk merefleksikan sebuah
kemandirian, keuletan, dan semangat yang tinggi yang jelas-jelas
terpancar dalam diri seorang perempuan manis nan bersahabat yang ada disebelah aku
yaitu “Subhanallah” Salut banget terhadap semua yang telah dilakukannya. Rasa
kagum pun tak kuasa kubendung apalagi hanya menahan, hanya orang-orang yang
tidak mengerti tentang apa arti makna sebuah perjuangan dan kerja keras saja
yang tidak setuju dengan perkataanku di atas.
Waktu menunjukkan pukul 17.00 Wita acara seminar
pun telah selesai, sementara aku berada di lobby hotel untuk sedikit melepas
lelah dan sambil menunggu waktu untuk berbuka puasa. Sekilas teringat wajah
perempuan tadi yang bernama Hana, entahlah mengapa tiba-tiba aku mengingatnya,
wajahnya yang begitu ramah dan bersahabat, wajah yang tampak jelas memancarkan
kehangatan terhadap semua orang yang menjadi lawan bicaranya, wajah yang begitu
ceria, seceria bunga-bunga ditaman yang sedang menyambut sang mentari pagi.
“Oh…apakah aku jatuh cinta?” tanyaku dalam hati, “Ah…terlalu bodoh aku berkata
seperti itu” pikirku, bukankah hanya dengan dipertemukannya saja aku sudah
merasa sangat beruntung, bukan karena berapa lama kita saling mengobrol ataupun
berapa lama kita saling mengenal, melainkan harmoni yang tercipta dari setiap
kejadian yang membuat semuanya terasa lebih bermakna, terasa lebih dalam dan
tentunya terasa sangat berharga. Harmoni yang mengilustrasikan seorang Kartini
muda masa kini yang tegerak hatinya karena keadaan, yang terbakar semangatnya
karena merasa dikecilkan, seorang Kartini muda yang sangat inspiratif yang
mampu menjadi pelita di tengah-tengah harapan dan menjadi lentera
ditengah-tengah kegelapan. Hmmm…tanpa kusadari
ternyata limabelas menit sudah aku berlari-lari dalam pikiranku sendiri, dan
seketika ada yang memanggil “Ka…masuk ke ruangan lagi ada acara pemberian
cinderamata dari panitia untuk para pembicara” seru Hana , “Oh…iya sebentar ya”
kataku menimpali panggilan dari Hana.
Pemberian
cinderamata pun telah selesai, kini saatnya menantikan saat berbuka puasa. Aku
mengambil beberapa kudapan kecil dan segelas kecil es sirup yang telah
disiapkan oleh panitia sambil kembali menuju lobby hotel untuk menikmati
hidangan buka puasa. Tidak berapa lama waktu
berbuka pun telah tiba, tidak lupa aku membaca doa sebagai manifestasi ungkapan
rasa syukur terhadap nikmat dan karunia-Nya hingga detik ini aku masih bisa
menjalani ibadah puasa dan masih bisa menikmati hidangan yang Engkau sajikan., Alhamdulillahirobbillalamin “Allahumma laka sumtu wa bika amantu wa
‘alaa rizqika afthortu birahmatika ya arhamarrohimin” “Ya Allah bagi-Mu aku berpuasa dan
dengan-Mu aku beriman dan atas rezeki-Mu aku berbuka dengan rahmat-Mu wahai
yang Maha Pengasih dan Penyayang.”
Setelah menikmati beberapa kudapan
kecil sejenak aku tersadar bahwa semuanya akan segera berakhir, ya semuanya
akan segera berakhir… sebuah pertemuan yang sangat inspiratif, sebuah
perkenalan yang begitu mendalam, tapi akankah semuanya berhenti sampai disini
atau mungkin akan ada kisah selanjutnya, yang jelas aku merasa takut, jujur
merasa takut…takut semuanya hanya akan berlalu begitu saja tanpa sebuah bekas, sementara
perasaan yang sangat tidak kusukai kembali datang, perasaan dimana aku begitu
berat untuk meninggalkan atau ditinggalkan terhadap orang yang sangat kusayangi.
“Orang yang sangat kusayangi,
maksudnya?” apakah aku benar-benar menyayanginya?, ini berarti aku benar-benar
mencintainya?, jatuh cintakah aku?. Ya Tuhan perasaan apa yang ada dalam hatiku
sekarang ini?
Aku melihat beberapa orang sudah mulai
meninggalkan hotel, dan kulihat Pa Andy bersama Atasan kami juga sudah selesai
menikmati hidangan berbuka puasa dan mulai bersiap-siap untuk meninggalkan hotel,
sementara aku masih duduk sambil sejenak berpikir adakah keberanian aku untuk
meminta nomor handphone darinya agar
setidaknya kelak aku masih bisa menyapanya, masih bisa mengenalnya, masih bisa
melepas cerita dan tentunya masih bisa berharap darinya, atau akan aku biarkan
semuanya ini hanya sekedar bagian dari perjalanan hidup aku tanpa berharap
kelak akan bertemu dan memintanya untuk menjadi something special, bukannya tak ingin berharap semuanya itu akan
terjadi namun kenyataan yang selama ini aku rasakan berbanding terbalik dengan
apa yang diharapkan, terlalu banyak sudah harapan dan impian menggoreskan luka dihati
bahkan terhadap orang-orang yang aku sayangi yaitu keluaragaku. Dan aku tak
ingin pertemuan dan perkenalannya yang begitu sangat dalam berakhir dengan
kekecewaan pada diriku. Dua menit aku berpikir, dan aku putuskan semua ini
adalah bagian dari perjalanan aku yang harus aku lalui termasuk cerita-cerita
di dalamnya.
Aku pun beranjak dari tempat duduk dan
segera bergabung dengan mereka yaitu Pa Andy dan Atasan kami, namun ketika aku
mau berlalu dari lobby hotel terdengar suara memanggil “Ka..bisa minta nomor handphonenya ga? Pinta Hana, sejenak aku
tekejut ketika Hana meminta nomor handphoneku.
Jujur saat Hana meminta nomor handphone
ada sedikit perasaan GR (gede rasa),
tapi aku berpikir, ah..tidakllah mungkin dia meminta nomor handphone hanya
untuk menambah teman saja atau memperluas beberapa koneksi untuknya. Entah apa
alasan dia meminta nomorku yang jelas aku merasa senang setidaknya ada
kemungkinan cerita setelah pertemuan ini. 082190xxxxxx kusebutkan nomorku dan
dia coba untuk menghubungi ternyata tidak bisa. “kalau begitu kaka catat saja
nomorku” kata Hana
Bersambung
. . . .!!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)