Jumat, 29 Juli 2016

Tiga Hari, Dua Malam dan Puluhan Ribu Kaki

Sebelumnya kau bilang itu puisi
Bagiku itu hal-hal yang terjadi padaku begitu saja
Tiap-tiap kali aku memikirkanmu
Pun demikian malam ini

Masih teringat jelas dalam ingatanku
ketika air harus menjadi awan untuk melintasi langit
Bagaimana dengan aku dan rinduku?

Terbang puluhan ribu kaki menemuimu, menuju matamu
Tak peduli berapa banyak alasan untuk kau bilang tidak
Cinta tetaplah cinta
Sebab rinduku bukan hanya jarak
Ia diingini namun juga disegani
Sampai kau meninggalkanku
Saat itu juga kututup rinduku...

Kamis, 28 Juli 2016

Siang itu...18 Juli 2013!



 09 Ramadhan 1434H atau 18 Juli 2013…Siang itu langit di kota “M” nampak tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, panas, gersang, dan berdebu, sebagai gambaran saja bahwa kota “M” adalah kota yang tepat dilalui garis khatulistiwa jadi menurutku wajar saja apabila cuaca disini sangat panas apalagi waktu menunjukkan pukul 14.00 Wita dimana matahari sedang terasa teriknya….puasa kali ini pun terasa nikmat sekali cobaannya, ya…memang bena-benar terasa nikmat, bukankah puasa seseorang hanya akan terasa apabila dikasih cobaan dimana orang tersebut pun tidak menyukainya atau menyenanginya sehinga yang demikian tersebut akan mempunyai nilai lebih dihadapan Tuhan. Namun udara panas tersebut setika berubah begitu masuk ruangan kantor, udara dingin yang keluar dari AC  membuat kepala ini terasa sejuk seperti diguyur pancuran air yang mengalir dari bambu-bambu yang berjejer rapi ditempat-tempat wisata di kaki gunung maupun di pedesaan. Seperti biasanya aku duduk dimana tempat aku bekerja, hufft….helaku, sambil membuka laptop untuk mereview materi yang akan dibawakan oleh Kepala Kantor kami untuk acara seminar, yang ternyata baru kami tahu jadwalnya masih lama yaitu sore nanti sekitar pukul 16.00 Wita…belum sampai 15 menit aku merasakan dinginnya udara AC yang berada di dalam ruangan. “Mas siap-siap kita ke Malendo lagi” seru Pa Andy sambil ke luar ruangan. “loh bukannya jadwal untuk kami sore nanti” gumamku dalam hati. Tapi ya sudahlah, laptop aku matikan kembali bersiap menuju ke Malendo lagi.. “oh iya Malendo adalah salah satu hotel di kota “M”, biasanya dihotel tersebut sering digunakan untuk acara-acara kantor, seperti rapat kerja, gathering, resepsi maupun seminar dll”.
Di depan kantor Pa Andy sudah menungguku dan Atasan kami, akhirnya kami berempat termasuk supir masuk mobil menuju Malendo. Sepuluh menit perjalanan sampailah kami berempat di hotel yang dimaksud, kami bertiga memasuki lobi dan langsung menuju ruang seminar, Atasan kami langsung menuju tempat yang telah disediakan oleh panitia sementara aku dan Pa Andy mencari tempat duduk yang kosong, sebelum sempat kutaruh tas, aku sempatkan bertanya dulu pada panitia “Maaf Bu kalau boleh tau operatornya mana ya?”  “oh..itu Pa.. perempuan yang pakai jilbab oranye” jawab ibu tersebut, yang kutahu belakangan ternyata namanya Ibu Santi, “terima kasih Bu..” sahutku sambil menuju ke tempat kursi kosong dan segera menaruh tas aku. Aku pun langsung ke depan menuju meja operator untuk memberikan flashdisk yang di dalamnya berisi materi yang akan disampaikan oleh Atasan kami. Setelahnya aku kembali duduk dan mendengarkan materi yang disampaikan oleh pembicara.
Namun ketika Atasan kami mulai membawakan materi rupanya antara yang disampaikan oleh Beliau dengan yang dipresentasikan berbeda. Kembali aku menuju meja operator lagi “permisi…bisa aku yang jadi operatornya” pintaku, “oh…iya bisa silahkan” jawab si operator yang murah senyum itu. Sembari aku mengoperasikan presentasi yang dibawakan oleh Beliau, aku sempatkan berkenalan dengan operator tadi, “boleh aku berkenalan” tanyaku, “iya boleh” jawab perempuan yang nampak sangat bersahabat tersebut, “Adit...” kataku sambil kuulurkan tangan tanda perkenalan “Hana…” jawab perempuan manis tersebut sambil berjabat tangan. “Oh…ternyata namanya Hana” kataku dalam hati, obrolan pun berlanjut…dan ketika aku bertanya “kalau boleh tau sekarang aktivitasnya ap?” “ga ad, kuliah aja…sambil ada usaha home industry  buat sprei” jawabnya dengan senyum yang manis.
Disamping kami berdua sibuk dengan apa yang dikerjakan masing- masing, kami masih sempat mengobrol dengan asyik dan santai. Entah berapa lama aku duduk di kursi untuk mengoperasikan presentasi dan berapa lama pula aku mengobrol dengannya, yang jelas dari obrolan tersebut tersirat betapa tangguhnya perempuan ini. Bagaimana tidak seorang perempuan yang membiayai kuliahnya sendiri dan sudah mempunyai usaha dimasa mudanya, “Ehmm….bagaimana dengan aku” tanyaku dalam hati. Mendengar semua apa yang tadi diceritakannya membuat dadaku ini terasa sesak, wajah ini terasa ditampar dan seakan-akan dalam hatiku yang lain berkata “Hei…lihatlah perempuan disebelah kamu, apakah kamu tidak merasa malu, bagaimana dengan kamu….apa yang sudah kamu lakukan selama ini?”  Ya Tuhan hanya ada satu kata yang terucap dalam hati aku untuk merefleksikan sebuah  kemandirian, keuletan, dan semangat yang tinggi yang jelas-jelas terpancar dalam diri seorang perempuan manis nan bersahabat yang ada disebelah aku yaitu “Subhanallah” Salut banget terhadap semua yang telah dilakukannya. Rasa kagum pun tak kuasa kubendung apalagi hanya menahan, hanya orang-orang yang tidak mengerti tentang apa arti makna sebuah perjuangan dan kerja keras saja yang tidak setuju dengan perkataanku di atas.
Waktu menunjukkan pukul 17.00 Wita acara seminar pun telah selesai, sementara aku berada di lobby hotel untuk sedikit melepas lelah dan sambil menunggu waktu untuk berbuka puasa. Sekilas teringat wajah perempuan tadi yang bernama Hana, entahlah mengapa tiba-tiba aku mengingatnya, wajahnya yang begitu ramah dan bersahabat, wajah yang tampak jelas memancarkan kehangatan terhadap semua orang yang menjadi lawan bicaranya, wajah yang begitu ceria, seceria bunga-bunga ditaman yang sedang menyambut sang mentari pagi. “Oh…apakah aku jatuh cinta?” tanyaku dalam hati, “Ah…terlalu bodoh aku berkata seperti itu” pikirku, bukankah hanya dengan dipertemukannya saja aku sudah merasa sangat beruntung, bukan karena berapa lama kita saling mengobrol ataupun berapa lama kita saling mengenal, melainkan harmoni yang tercipta dari setiap kejadian yang membuat semuanya terasa lebih bermakna, terasa lebih dalam dan tentunya terasa sangat berharga. Harmoni yang mengilustrasikan seorang Kartini muda masa kini yang tegerak hatinya karena keadaan, yang terbakar semangatnya karena merasa dikecilkan, seorang Kartini muda yang sangat inspiratif yang mampu menjadi pelita di tengah-tengah harapan dan menjadi lentera ditengah-tengah kegelapan.  Hmmm…tanpa kusadari ternyata limabelas menit sudah aku berlari-lari dalam pikiranku sendiri, dan seketika ada yang memanggil “Ka…masuk ke ruangan lagi ada acara pemberian cinderamata dari panitia untuk para pembicara” seru Hana , “Oh…iya sebentar ya” kataku menimpali panggilan dari Hana.
  Pemberian cinderamata pun telah selesai, kini saatnya menantikan saat berbuka puasa. Aku mengambil beberapa kudapan kecil dan segelas kecil es sirup yang telah disiapkan oleh panitia sambil kembali menuju lobby hotel untuk menikmati hidangan buka puasa. Tidak berapa lama waktu berbuka pun telah tiba, tidak lupa aku membaca doa sebagai manifestasi ungkapan rasa syukur terhadap nikmat dan karunia-Nya hingga detik ini aku masih bisa menjalani ibadah puasa dan masih bisa menikmati hidangan yang Engkau sajikan., Alhamdulillahirobbillalamin “Allahumma laka sumtu wa bika amantu wa ‘alaa rizqika afthortu birahmatika ya arhamarrohimin “Ya Allah bagi-Mu aku berpuasa dan dengan-Mu aku beriman dan atas rezeki-Mu aku berbuka dengan rahmat-Mu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.”
Setelah menikmati beberapa kudapan kecil sejenak aku tersadar bahwa semuanya akan segera berakhir, ya semuanya akan segera berakhir… sebuah pertemuan yang sangat inspiratif, sebuah perkenalan yang begitu mendalam, tapi akankah semuanya berhenti sampai disini atau mungkin akan ada kisah selanjutnya, yang jelas aku merasa takut, jujur merasa takut…takut semuanya hanya akan berlalu begitu saja tanpa sebuah bekas, sementara perasaan yang sangat tidak kusukai kembali datang, perasaan dimana aku begitu berat untuk meninggalkan atau ditinggalkan terhadap orang yang sangat kusayangi. “Orang yang sangat kusayangi, maksudnya?” apakah aku benar-benar menyayanginya?, ini berarti aku benar-benar mencintainya?, jatuh cintakah aku?. Ya Tuhan perasaan apa yang ada dalam hatiku sekarang ini?
Aku melihat beberapa orang sudah mulai meninggalkan hotel, dan kulihat Pa Andy bersama Atasan kami juga sudah selesai menikmati hidangan berbuka puasa dan mulai bersiap-siap untuk meninggalkan hotel, sementara aku masih duduk sambil sejenak berpikir adakah keberanian aku untuk meminta nomor handphone darinya agar setidaknya kelak aku masih bisa menyapanya, masih bisa mengenalnya, masih bisa melepas cerita dan tentunya masih bisa berharap darinya, atau akan aku biarkan semuanya ini hanya sekedar bagian dari perjalanan hidup aku tanpa berharap kelak akan bertemu dan memintanya untuk menjadi something special, bukannya tak ingin berharap semuanya itu akan terjadi namun kenyataan yang selama ini aku rasakan berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan, terlalu banyak sudah harapan dan impian menggoreskan luka dihati bahkan terhadap orang-orang yang aku sayangi yaitu keluaragaku. Dan aku tak ingin pertemuan dan perkenalannya yang begitu sangat dalam berakhir dengan kekecewaan pada diriku. Dua menit aku berpikir, dan aku putuskan semua ini adalah bagian dari perjalanan aku yang harus aku lalui termasuk cerita-cerita di dalamnya.
Aku pun beranjak dari tempat duduk dan segera bergabung dengan mereka yaitu Pa Andy dan Atasan kami, namun ketika aku mau berlalu dari lobby hotel terdengar suara memanggil “Ka..bisa minta nomor handphonenya ga? Pinta Hana, sejenak aku tekejut ketika Hana meminta nomor handphoneku. Jujur saat Hana meminta nomor handphone ada sedikit perasaan GR (gede rasa), tapi aku berpikir, ah..tidakllah mungkin dia meminta nomor handphone hanya untuk menambah teman saja atau memperluas beberapa koneksi untuknya. Entah apa alasan dia meminta nomorku yang jelas aku merasa senang setidaknya ada kemungkinan cerita setelah pertemuan ini. 082190xxxxxx kusebutkan nomorku dan dia coba untuk menghubungi ternyata tidak bisa. “kalau begitu kaka catat saja nomorku” kata Hana  

Bersambung . . . .!!!!!