Rabu, 30 Desember 2015

Perayaan Tahun Baru dan Hakikat Hidup

Setiap akhir tahun biasanya semua manusia di dunia ini tidak terkecuali kaum Muslim mengalami wabah penyakit yang luar biasa, pengidap penyakit ini biasanya menjadi suka menghamburkan harta untuk berhura-hura, euforia yang berlebihan, pesta pora dengan makanan yang mewah, minum-minum semalam penuh, lalu mendadak ngitung (3.., 2.., 1.. Dar Der Dor!).

Wabah itu bukan flu burung, bukan juga kelaparan, tapi wabah penyakit akhir tahun yang kita biasa sebut dengan tradisi perayaan tahun baruan. Kaum muda pun tak ketinggalan merayakan tradisi ini. Kalo yang udah punya gandengan merayakan dengan jalan-jalan konvoi keliling kota, pesta di restoran, kafe, warung (emang ada ya?)

Kalo yang jomblo yaa.. tiup terompet, baik terompet milik sendiri ataupun minjem (bagi yang nggak punya duit). Kalo yang kismin, ya minimal jalan-jalan naik truk bak sapi lah, sambil teriak-teriak nggak jelas.

Dan bagi kaum adam yang normal menurut pandangan jaman ini, kesemua perayaan itu tidaklah lengkap tanpa kehadiran kaum hawa. Karena seperti kata iklan “nggak ada cewe, nggak rame”
Bahkan di kota-kota besar, tak jarang setelah menunggu semalaman pergantian tahun itu mereka mengakhirinya dengan perbuatan-perbuatan terlarang di hotel atau motel terdekat.

Yah itulah sedikit cuplikan fakta yang sering kita lihat, dengar, dan rasakan menjelang malam-malam pergantian tahun. Ini dialami oleh kaum muslimin, khususnya para anak muda yang memang banyak sekali warna dan gejolaknya. Nah, sebagai pemuda-pemudi muslim yang cerdas, agar kita nggak salah langkah di tahun baruan ini, maka kita harus menyimak gimana seharusnya kita menyikapi momen yang satu ini. (sumber : felixsiauw.com)

Sebagaimana kita ketahui bangsa Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam, tentunya banyak orang muslim juga yang merayakan tahun baru masehi ini. Pergantian tahun baru Islam saja tidak disikapi secara berlebihan, lalu bagaimana mungkin perayaan tahun baru masehi yang awal mulanya dari bangsa Romawi sebagai penyembahan kepada dewa matahari lebih meriah daripada perayaan tahun baru Islam. Kemudian yang jadi pertanyaan, pantaskah kita sebagai orang muslim merayakan tahun baru masehi?  padahal Islam telah meletakkan batas-batas yang jelas dalam setiap perayaan, cukuplah Idul Fitri, Idul Adha, hari Jumat perayaan buat kita semua umat muslim tanpa perlu lagi mengikuti perayaan-perayaan yang memang tidak ada manfaatnya.

Hidup bukan cuma untuk berhura-hura, konvoi kendaraan, tiap-tiup terompet (Dar...Der...Dor...), ketawa-tawa, teriak-teriak ngga jelas hingga menimbulkan euforia berlebihan dalam merayakan pergantian tahun yang jelas-jelas lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Seandainya hal-hal semacam itu terus terjadi dalam setiap perayaan pergantian tahun, lalu apakah hakikat hidup ini untuk kita???

Perlu kita ketahui hidup ini merupakan “Ibadah” agar kita semua manusia senantiasa tak lupa kepada penciptanya. "Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku".

Kehidupan tetap ada bahkan setelah tiada. Karena manusia itu diciptakan bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dikenang. Maka sekali manusia itu hidup, ia akan terus dikenang di dalam hati manusia lainnya yang mengenal dan menyayanginya. Oleh sebab itu isilah pergantian tahun dengan beribadah sebaik-baiknya kepada Allah, bermuhasabah diri, mengaji, membantu orang tua, membantu sesama dan menjaga lingkungan.


Kamis, 25 Juni 2015

"Aku" yang Sekarang bukanlah "Aku" yang Dulu

"kamu sekarang berubah, ngga seperti waktu dulu masih kuliah begitu idealis. Sekarang pas kamu sudah bekerja kamu lebih mementingkan keuntungan pada diri kamu sendiri...."

Pernah dengar sepenggal kalimat di atas...? begitulah memang kenyataan yang terjadi, dunia semasa kuliah memang berbeda dengan dunia kerja yang sesungguhnya. Banyak orang semasa kuliah begitu idealis tetapi begitu masuk dunia kerja keuntungan menjadi prasayarat utama.

Dahulu waktu jadi mahasiswa sering menggembar gemborkan kebathilan : berantas korupsi! Kejujuran dan kebenaran ditegakkan, Kebathilan dan Kekufuran dilawan akan tetapi itu semua dulu sewaktu masih muda, masih semangat, masih bergelora.

Dan semua berubah atau perlahan-lahan mulai menghilang ketika memasuki dunia kerja sebagai karyawan baik swasta maupun instansi pemerintah. Kini tidak sedikit orang yang dulu sangat idealis seperti yang disebutkan di atas ternyata ia juga melakukannya. 

Banyak sebab yang menjadi dasar orang tersebut untuk melakukan hal-hal yang sekiranya menguntungkan baginya. Mungkin memang sistem di kantornya yang secara tidak langsung membuat dia ikut mengambil keuntungan, atau mungkin memang dia sendiri yang berusaha mengambil keuntungan setiap ada kesempatan, atau bisa jadi dia memang disuruh oleh atasannya untuk mencari keuntungan-keuntungan tersebut. Pada akhirnya keuntungan tersebut sudah mendarag daging baginya, menjadi prioritas yang utama dalam bekerja sehingga apabila dirasanya tidak ada yang menguntungkan baginya dia tidak masuk kerja, malas-malasan, santai, seenaknya dll. Bukan maksud menjustisifikasi tetapi hal seperti ini paling banyak (tidak semua) ditemukan di instansi pemerintah. 

Pengawasan yang sangat kurang bahkan cenderung lemah membuat para PNS di beberapa instansi bekerja seenaknya walaupun sudah dibiayai oleh negara. 

Berikut perilaku para PNS :
1. Tidak masuk kantor kalau tidak ada atasan;
2. Tidak masuk kantor kalau tidak ada kerjaan (padahal pasti ada);
3. Datang telat pulang cepat;
4. Datang tepat waktu siang hilang sampai sore tidak kembali;
5. Selalu ribut masalah pencairan, yang ditanya selalu uang dan uang;
6. Dan masih banyak lagi.

 + Pertanyaannya kemudian apakah penulis juga sperti apa yang ditulisnya?
 -  Wallahualam bishawab
 
Wahai Dzat yang dapat membolak balikkan hati tetapkanlah hati ini untuk selalu istiqamah di Jalan-Mu yaitu jalan kebaikan dan kebenaran. amin !